Mengenal Tradisi Puput Pusar: Antara Mitos Leluhur dan Penjelasan Medis
Penulis Artikel • 11 February 2026
Kelahiran bayi membawa beragam tradisi yang masih dilestarikan oleh masyarakat Indonesia hingga saat ini. Salah satu momen yang paling terkenal adalah "puput pusar" atau lepasnya sisa tali pusat bayi. Banyak orang tua langsung bersiap menggelar syukuran kambing aqiqah begitu fase kritis ini berhasil dilewati oleh sang bayi.
Masyarakat kita seringkali memadukan ritual budaya warisan leluhur dengan panduan kesehatan modern dalam merawat bayi baru lahir. Pemahaman yang seimbang antara mitos dan fakta medis sangat diperlukan agar orang tua tidak salah langkah. Mari kita bedah fenomena ini agar Ayah Bunda bisa merayakan momen spesial tersebut dengan aman dan bijak.
Mitos dan Tradisi Seputar Puput Pusar
Dalam budaya Jawa, lepasnya tali pusat dianggap sebagai tonggak pencapaian besar yang harus dirayakan dengan ritual khusus. Masyarakat biasanya menggelar acara bancakan atau syukuran kecil dengan membagikan bubur kepada tetangga terdekat. Tradisi ini dipercaya dapat mendatangkan keselamatan dan menolak bala bagi kehidupan bayi di masa depan.
Ada beberapa kepercayaan unik yang menyertai momen ini dan masih dipegang teguh oleh sebagian besar kalangan tua. Meskipun terdengar tidak masuk akal, filosofi di baliknya seringkali mengandung pesan moral yang mendalam. Berikut adalah dua mitos paling populer terkait puput pusar yang perlu Anda ketahui maknanya.
1. Mitos Menyimpan Tali Pusat Kering
Banyak orang percaya bahwa tali pusat yang sudah kering memiliki kekuatan magis dan harus disimpan dengan baik. Sebagian orang mengeringkannya dan menjadikannya jimat atau obat bagi si anak ketika sedang sakit demam. Namun, hal ini hanyalah sugesti semata dan tidak memiliki landasan ilmiah apapun dalam dunia medis modern.
2. Simbolisme Bubur Merah Putih
Sajian bubur merah putih menjadi menu wajib dalam acara syukuran ini sebagai lambang asal-usul manusia. Bubur merah menyimbolkan darah ibu, sedangkan bubur putih melambangkan benih ayah yang menyatu menjadi seorang anak. Filosofi ini mengajarkan kita untuk senantiasa menghormati kedua orang tua yang telah menjadi perantara kelahiran kita.
Penjelasan Medis Perawatan Tali Pusat
Dari kacamata medis, lepasnya tali pusat adalah proses biologis alami yang tidak memerlukan intervensi mistis apapun. Jaringan tersebut akan mengering dan terlepas dengan sendirinya dalam waktu satu hingga tiga minggu pasca kelahiran. Orang tua hanya perlu memastikan area tersebut tetap bersih dan kering untuk mencegah infeksi bakteri berbahaya.
Perawatan yang salah akibat mengikuti mitos yang tidak higienis justru bisa membahayakan nyawa bayi newborn. Dokter anak selalu menekankan prinsip steril dalam menangani luka terbuka pada pusar bayi. Berikut adalah fakta medis yang wajib dipatuhi agar proses penyembuhan berjalan lancar tanpa komplikasi.
1. Hindari Taburan Bedak atau Jamu
Dokter sangat melarang pemberian bedak atau racikan jamu pada tali pusat yang masih basah. Benda asing ini justru bisa menjadi sarang bakteri Clostridium tetani yang menyebabkan penyakit tetanus pada bayi baru lahir. Cukup gunakan kassa steril dan air bersih atau alkohol sesuai arahan tenaga medis yang menangani.
2. Waspadai Tanda Infeksi
Orang tua harus tetap waspada jika area sekitar pusar tampak merah, bengkak, atau mengeluarkan bau tidak sedap. Nanah atau darah yang terus merembes menandakan adanya infeksi yang membutuhkan penanganan medis segera. Jangan menunda membawa bayi ke dokter karena sepsis pada bayi baru lahir bisa menyebar sangat cepat.
Hubungan Puput Pusar dengan Waktu Aqiqah
Banyak masyarakat yang mempertanyakan apakah pelaksanaan penyembelihan kambing aqiqah harus menunggu tali pusat puput terlebih dahulu. Dalam hukum Islam, waktu utama aqiqah sudah ditetapkan pada hari ketujuh kelahiran terlepas dari kondisi pusar bayi. Namun, tradisi di beberapa daerah seringkali menggabungkan kedua peristiwa ini menjadi satu perayaan yang meriah.
Sinkronisasi antara adat dan agama sebenarnya sah-sah saja selama tidak melanggar syariat yang telah ditentukan. Jika puput pusar terjadi berdekatan dengan hari ketujuh, menggabungkan syukuran keduanya tentu lebih praktis dan efisien. Yang terpenting adalah niat ibadah aqiqah tetap menjadi prioritas utama dibandingkan ritual adat semata.
Syariat vs Tradisi Lokal
Islam memberikan kemudahan dengan menetapkan waktu aqiqah pada hari ke-7, 14, atau 21. Jika tali pusat puput di hari ke-5, orang tua bisa menunggu hingga hari ke-7 untuk merayakannya bersamaan. Penggabungan rasa syukur atas lepasnya tali pusat dan kelahiran membuat acara kambing aqiqah semakin semarak.
Memahami perbedaan antara mitos dan fakta medis membantu orang tua merawat bayi dengan lebih bijak dan tenang. Pertahankan tradisi yang baik tanpa mengabaikan standar kesehatan yang telah ditetapkan demi keselamatan si kecil. Jika pusar sudah kering dan waktunya tiba, segera persiapkan syukuran terbaik.
Untuk melengkapi kebahagiaan momen puput pusar dan kelahiran, percayakan ibadah Anda kepada Barokah Aqiqah. Kami menyediakan layanan profesional dengan pengolahan higienis dan terjamin halal sesuai syariat. Hubungi Barokah Aqiqah segera untuk mendapatkan penawaran istimewa bagi buah hati tercinta.
Masyarakat kita seringkali memadukan ritual budaya warisan leluhur dengan panduan kesehatan modern dalam merawat bayi baru lahir. Pemahaman yang seimbang antara mitos dan fakta medis sangat diperlukan agar orang tua tidak salah langkah. Mari kita bedah fenomena ini agar Ayah Bunda bisa merayakan momen spesial tersebut dengan aman dan bijak.
Mitos dan Tradisi Seputar Puput Pusar
Dalam budaya Jawa, lepasnya tali pusat dianggap sebagai tonggak pencapaian besar yang harus dirayakan dengan ritual khusus. Masyarakat biasanya menggelar acara bancakan atau syukuran kecil dengan membagikan bubur kepada tetangga terdekat. Tradisi ini dipercaya dapat mendatangkan keselamatan dan menolak bala bagi kehidupan bayi di masa depan.
Ada beberapa kepercayaan unik yang menyertai momen ini dan masih dipegang teguh oleh sebagian besar kalangan tua. Meskipun terdengar tidak masuk akal, filosofi di baliknya seringkali mengandung pesan moral yang mendalam. Berikut adalah dua mitos paling populer terkait puput pusar yang perlu Anda ketahui maknanya.
1. Mitos Menyimpan Tali Pusat Kering
Banyak orang percaya bahwa tali pusat yang sudah kering memiliki kekuatan magis dan harus disimpan dengan baik. Sebagian orang mengeringkannya dan menjadikannya jimat atau obat bagi si anak ketika sedang sakit demam. Namun, hal ini hanyalah sugesti semata dan tidak memiliki landasan ilmiah apapun dalam dunia medis modern.
2. Simbolisme Bubur Merah Putih
Sajian bubur merah putih menjadi menu wajib dalam acara syukuran ini sebagai lambang asal-usul manusia. Bubur merah menyimbolkan darah ibu, sedangkan bubur putih melambangkan benih ayah yang menyatu menjadi seorang anak. Filosofi ini mengajarkan kita untuk senantiasa menghormati kedua orang tua yang telah menjadi perantara kelahiran kita.
Penjelasan Medis Perawatan Tali Pusat
Dari kacamata medis, lepasnya tali pusat adalah proses biologis alami yang tidak memerlukan intervensi mistis apapun. Jaringan tersebut akan mengering dan terlepas dengan sendirinya dalam waktu satu hingga tiga minggu pasca kelahiran. Orang tua hanya perlu memastikan area tersebut tetap bersih dan kering untuk mencegah infeksi bakteri berbahaya.
Perawatan yang salah akibat mengikuti mitos yang tidak higienis justru bisa membahayakan nyawa bayi newborn. Dokter anak selalu menekankan prinsip steril dalam menangani luka terbuka pada pusar bayi. Berikut adalah fakta medis yang wajib dipatuhi agar proses penyembuhan berjalan lancar tanpa komplikasi.
1. Hindari Taburan Bedak atau Jamu
Dokter sangat melarang pemberian bedak atau racikan jamu pada tali pusat yang masih basah. Benda asing ini justru bisa menjadi sarang bakteri Clostridium tetani yang menyebabkan penyakit tetanus pada bayi baru lahir. Cukup gunakan kassa steril dan air bersih atau alkohol sesuai arahan tenaga medis yang menangani.
2. Waspadai Tanda Infeksi
Orang tua harus tetap waspada jika area sekitar pusar tampak merah, bengkak, atau mengeluarkan bau tidak sedap. Nanah atau darah yang terus merembes menandakan adanya infeksi yang membutuhkan penanganan medis segera. Jangan menunda membawa bayi ke dokter karena sepsis pada bayi baru lahir bisa menyebar sangat cepat.
Hubungan Puput Pusar dengan Waktu Aqiqah
Banyak masyarakat yang mempertanyakan apakah pelaksanaan penyembelihan kambing aqiqah harus menunggu tali pusat puput terlebih dahulu. Dalam hukum Islam, waktu utama aqiqah sudah ditetapkan pada hari ketujuh kelahiran terlepas dari kondisi pusar bayi. Namun, tradisi di beberapa daerah seringkali menggabungkan kedua peristiwa ini menjadi satu perayaan yang meriah.
Sinkronisasi antara adat dan agama sebenarnya sah-sah saja selama tidak melanggar syariat yang telah ditentukan. Jika puput pusar terjadi berdekatan dengan hari ketujuh, menggabungkan syukuran keduanya tentu lebih praktis dan efisien. Yang terpenting adalah niat ibadah aqiqah tetap menjadi prioritas utama dibandingkan ritual adat semata.
Syariat vs Tradisi Lokal
Islam memberikan kemudahan dengan menetapkan waktu aqiqah pada hari ke-7, 14, atau 21. Jika tali pusat puput di hari ke-5, orang tua bisa menunggu hingga hari ke-7 untuk merayakannya bersamaan. Penggabungan rasa syukur atas lepasnya tali pusat dan kelahiran membuat acara kambing aqiqah semakin semarak.
Memahami perbedaan antara mitos dan fakta medis membantu orang tua merawat bayi dengan lebih bijak dan tenang. Pertahankan tradisi yang baik tanpa mengabaikan standar kesehatan yang telah ditetapkan demi keselamatan si kecil. Jika pusar sudah kering dan waktunya tiba, segera persiapkan syukuran terbaik.
Untuk melengkapi kebahagiaan momen puput pusar dan kelahiran, percayakan ibadah Anda kepada Barokah Aqiqah. Kami menyediakan layanan profesional dengan pengolahan higienis dan terjamin halal sesuai syariat. Hubungi Barokah Aqiqah segera untuk mendapatkan penawaran istimewa bagi buah hati tercinta.